Skip to content

MATAMU, Peluru!

2011 June 30
Comments Off
Posted by Agna MS

AKU. sepucuk senapan tanpa peluru. lubang besar bersarang di dadaku sejak engkau meledak, melesat meninggalkanku.

PERGIMU menyulut sumbu. moncong sepi menghantui hari-hariku. tak cukupkah kau berondong aku dengan diammu?

ADA yang lebih kutakuti ketimbang senapan api – sepi yang kauledakkan, padaku sunyi kaualamatkan.

ENGKAU pemburu, seribu pesonamu adalah peluru. aku tersesat di hutan ragu, diburu waktu – tolong, bunuh saja rinduku!

——-

thanks to @hotfashionholic yang sudah menembakkan sajak berikut :

“Matamu peluru. Dadaku sasaran bisu. Tutur katamu mesiu. Hatiku tumbang membiru.”

Ibu, Penyala Sumbu

2011 April 4
Comments Off
Tags:
Posted by Agna MS

INGATKAH sehasta bambu, ruas sebuku, ibu? Engkau biasa nyalakan sumbu di malam-malam beludru. Lihat, kenangan itu masih menyala, ibu.

SEJAK kulihat binar matamu, aku belajar melihat sinar matahari. Semakin kulihat silau dunia, semakin kurindu kilau matamu, ibu.

BELUM pernah kulihat surga meski sekali. Tapi jika ia, sejuk sungai peluh dan air matamu, ibu, telah aku tenggelam jutaan kali.

Kopi, atau Televisi?

2011 April 4
Comments Off
Posted by Agna MS

PADA kopi secawan, apa yang bisa kuharap, kawan? Pada pekatnya, aku terbiasa memperdaya rasa penat, berharap ia tersesat.

LALU di televisi, apa yang aku cari? Jika hanya beroleh nyeri, baiknya kutinggal pergi. Biarlah ia, asik menghibur diri sendiri.

Pada Setiap…….

2011 March 26
Comments Off
Posted by Agna MS

PADA setiap ruku dan sujudku, bukan rusuk patah kening memar yang ingin kukejar, melainkan cinta-Mu yang tak ingin kuingkar.

PADA setiap gigil tengah malam di lembut sajadah, bukan kucari wangi yang mewah, melainkan kecup-Mu sebelum rebah.

PADA setiap lembar kain sarung yang lusuh, aku tak hanya bebatkan tubuh. Padanya kubelajar menjaga serat cinta-Mu tetap utuh.

PADA setiap kali berderma, bukan pujian yang ingin kuterima. Ah, hanya ridho-Mu atas secuil cintaku yang mampu menjelma.

PADA setiap kuseduh kopi yang hitam pekat, sedikit gula sekejap lesap. Tapi padanya ingin kusesap, manis cinta-Mu yang tak pernah lenyap.

Ini, Sebuah Jeda

2011 March 26
Comments Off
Posted by Agna MS

INI senja keberapa di sisa musim yang basah? entah! ah, lalu mengapa sebuah jeda, tetiba menghantam tepat di dada?

SUNGGUH benar, aku terkadang amat pelupa. lupa kata lupa bilangan. kerap, lupa pula mengukur timbangan.

AKU yang lelap, dipeluk lentik jemari usia yang kian mengering, mengeriput. jemari, yang akan mencekikku kelak.

DADA ini teramat rapuh, berharap tetap Kau-rengkuh. luka membilur membalut raga, berharap Kau-jaga hingga kepala.

PADA sehelai sajadah airmataku pecah. kerap kutinggal ia pergi ke negeri entah.

PADA selembar tikar, tak jarang kubaringkan jiwa yang memar. ah, alpa dosaku kian membesar.

PADA bibir yang bernyanyi, acapkali dada ini lari sembunyi, dari rasa sunyi.

PADA ruang-ruang kesunyian, kuuntai helai-helai kesepian, mengikatkannya pada simpul kenangan.

Ah,

GUGURAN angka, jatuh luruh dari kalender tahun. suka, duka, saling menimbun. kuharap cinta untuk-Mu, tumbuh subur kukuh menahun.

CINTA adalah…….

2011 January 18
Comments Off
Tags: ,
Posted by Agna MS

CINTA adalah,
kata yang tak juga mampu mengalir dari tangan penyair. Tercekik sedu sedan. Tertelan dada yang bimbang.

CINTA adalah,
keluh yang enyah malu-malu dari perih lukaku, gusar yang diam-diam pergi dari memar kecewaku.

CINTA adalah,
gelap yang tak mampu kaubaca, diam yang tak sanggup kaueja. Lalu kaunyalakan kandil di dadamu, dengan detak jantungmu.

CINTA adalah,
sebentuk keranda bagi luka, untuk dikuburkan ke dalam lupa, lalu diberi senyum sebagai nisan penanda.

CINTA adalah,
sunyi yang menempati pergimu, riuh yang menemani hadirmu.

CINTA adalah,
peluk yang membuatku terlelap, tepuk yang membuatku terjaga. Lalu di atas sajadah, kucari-cari pemiliknya.

CINTA adalah, restu yang tak lekang waktu, kerut yang tak juga menyerah. Hei, itu ibuku! Juga bapakku!

Ajari Aku, Ibu…

2011 January 2
Tags:
Posted by Agna MS

IBU.
ajari aku cara melukis cinta. seperti ketika engkau begitu ringan menggambar penat, hanya dengan segaris lengkung senyuman.

IBU.
ajari aku cara mengusir nyeri. seperti ketika engkau terbiasa melarikan sepi ke halaman, berbekal sapu lidi di genggaman, tanpa sebaris gumaman.

IBU.
ajari aku cara membungkus gusar. seperti ketika tangis kanakku membangunkan tidur malammu dengan kasar, lalu kauelus perutku yang lapar, dengan segenap sabar.

IBU.
kadang kami sibuk bertikai, di depan api yang lalu terbengkalai. sedang engkau lebih suka sendiri tertegun, menjaga nyala di hatimu tetap unggun.

Sebenar-benarnya Engkau

2010 December 11
Tags:
Posted by Agna MS

wahai cinta selembut awan.
hendak kemana engkau berjalan.
di negeri mana diam bertahan.
bolehkah aku turut bermalam?

engkau kandil yang kemerlap.
pelita di malam gelap.
dian penerang hati yang kalap.
pandu pengantar ke negeri lelap.

datanglah wahai engkau juwita.
di terik siang atau gulita.
usah bicara sepatah kata.
kita berbincang di tatap mata.

di bening matamu kekasih.
awan berarak berwarna putih.
camar mengepak menepis buih.
menghalau cemas mengusir pedih.

di derai rambutmu harum.
kau sembunyikan seribu senyum.
terjatuh aku di pipimu ranum.
dengan jantung seribu dentum.

Di Basah Embun Cinta-MU

2010 December 5
Comments Off
Posted by Agna MS

Kuyup wajahku, bermandikan basah kabut cinta-Mu. Kujemput sisa tetesnya pada pucuk embun selepas subuh yang anggun.

Kubentangkan dada di pelataran tanpa tenda, membaca sajak-Nya yang tak kenal jeda, lesapkan luka di alam terbuka.

Ah, mata ini kian lamur, terhalang dosa yang menjamur, seiring rasa syukur yang semakin menipis di sisa umur.

Mata ini, kadang pula buram karena luka. Ah, akan terus kubasuh ia dengan udara pagi yang jernih, biar kian takdzim melihat ayat di tiap musim.

Tuhan. Bukan tubuh renta yang kutakutkan, bukan beban sarat yang kurisaukan, melainkan cinta-Mu yang kadangkala tak kuhiraukan.

Tentang WAKTU

2010 November 24
Comments Off
Posted by Agna MS

Apakah WAKTU? Ia, serupa lumpang batu, tempat kutumbuk biji kenang, bersama butir doa, mimpi, serta curah air mata.

WAKTU juga semacam ulekan, tempat segala aroma dan rasa berbaur. Seberapa banyak putaran doa dan ragu yang kita bubuhkan?

Kadangkala WAKTU seperti wajan. Kita merebus isi kepala. Semakin matangkah biji-biji pikiran yang kita punya, ataukah sekedar melepuh bersama keluh?